Masjid Darussalam, Kepedulian di Jalur Bypass Cicalengka Saat Arus Mudik

 


KBT NEWS ID CICALENGKA BANDUNG — Di tengah padatnya arus mudik Lebaran yang melintasi jalur Bypass Cicalengka, kehadiran Masjid Darussalam menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini menjelma sebagai titik persinggahan yang menghadirkan kenyamanan, kehangatan, dan kepedulian bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman.


Sejak awal masa mudik, Posko Mudik Masjid Darussalam dipadati para musafir yang membutuhkan tempat beristirahat. Wajah-wajah lelah yang datang perlahan berubah menjadi lega setelah mereka merasakan suasana sejuk dan pelayanan tulus dari para relawan. Tak sedikit pemudik yang memanfaatkan waktu singgah untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.


Penanggung jawab masjid, Kang Luthpi, mengatakan bahwa posko mudik ini memang dihadirkan sebagai bentuk kepedulian terhadap para pengguna jalan. 


“Kami berupaya semaksimal mungkin memberikan kenyamanan bagi para pemudik, mulai dari tempat istirahat, air bersih, hingga rasa aman selama mereka singgah,” ujarnya.


Fasilitas yang tersedia pun cukup memadai. Area masjid yang bersih, tempat ibadah yang nyaman, serta fasilitas MCK menjadi penunjang utama. Tak hanya itu, keamanan juga diperhatikan dengan adanya CCTV dan penjaga yang siaga, sehingga pemudik tidak khawatir meninggalkan barang bawaan mereka.


Salah satu musafir, Ari, mengaku terkesan saat singgah di Masjid Darussalam. Ia bahkan sempat merasakan suasana kebersamaan dengan warga sekitar. 


“Saya ikut bertakbir bersama, suasananya hangat sekali. Tempatnya bersih dan nyaman, jadi bisa istirahat sekaligus ibadah dengan tenang,” tuturnya.


Selain itu, seluruh layanan diberikan tanpa dipungut biaya. Para pemudik dapat menikmati air bersih dan area parkir secara gratis. Di sekitar masjid juga terdapat warung kecil yang membantu memenuhi kebutuhan makan dan minum, sehingga semakin memudahkan para musafir dalam perjalanan.


Beberapa pemudik bahkan memilih untuk menginap karena kelelahan. Mereka memanfaatkan area masjid untuk beristirahat bersama keluarga, makan, hingga mengatasi kendala perjalanan seperti kendaraan mogok.


Situasi ini menunjukkan bahwa Masjid Darussalam bukan hanya tempat singgah, tetapi juga ruang berbagi dan saling membantu.


Menariknya, interaksi yang terjalin di lokasi ini tak jarang menghadirkan cerita baru. Ada pemudik yang berbagi kisah perjalanan, hingga ada pula yang mendapatkan pekerjaan sementara membantu pengelolaan parkir selama arus mudik berlangsung.


Meski kini arus mudik telah mereda dan posko resmi ditutup, jejak kebaikan dari para relawan masih membekas di hati para pemudik. Ucapan terima kasih dan doa terus mengalir sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan yang diberikan dengan penuh keikhlasan.


Kang Luthpi menambahkan, Masjid Darussalam yang berdiri sejak 2006 dan telah diwakafkan pada 2013 itu masih terus berbenah, terutama dalam aspek administrasi dan pengelolaan.


“Saat ini pengelolaan masih dilakukan secara mandiri oleh warga. Kami berharap ada sinergi dan arahan agar pengelolaan ke depan bisa lebih tertata dan akuntabel,” ungkapnya.


Di tengah segala keterbatasan, Masjid Darussalam tetap berupaya menjaga fungsinya sebagai pusat syiar sekaligus tempat pelayanan umat. Kisah yang terukir selama musim mudik ini menjadi bukti bahwa kepedulian sederhana mampu memberi dampak besar bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan panjang. (red*)