Menunggu Detak yang Tak Pasti
***Aku sering terbangun di tengah malam, bukan karena mimpi buruk, tapi karena jantungku sendiri. Detaknya tak lagi seperti dulu tenang dan setia kini ia seperti orang asing yang kadang terburu-buru, kadang melemah tanpa aba-aba.
Di sela sunyi itu, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar, bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar siap?
Dokter bilang ini jalan terbaik. Operasi bypass jantung. Sebuah kata yang terdengar besar, dingin, dan menakutkan. Mereka bilang peluangku hidup lebih baik ada di sana. Tapi tak ada yang benar-benar bisa menjelaskan bagaimana rasanya menyerahkan hidup sepenuhnya di atas meja operasi.
Aku mencoba kuat. Setidaknya di depan orang-orang.
“Insyaallah ini yang terbaik,” kataku pada mereka, pada keluargaku, pada siapa saja yang bertanya. Tapi di dalam hati, aku gemetar. Ada ketakutan yang tak bisa diucapkan takut tidak bangun lagi, takut meninggalkan semuanya begitu saja.
Lebih dari itu, aku lelah.
Bukan hanya karena sakit ini. Tapi karena perjalanan panjang menuju hari itu. Bolak-balik kontrol, duduk berjam-jam di rumah sakit, menunggu antrean dengan tubuh yang semakin lemah. Dan yang paling menyakitkan… melihat orang-orang yang tetap setia menemaniku.
Aku sering mencuri pandang.
Mereka duduk di kursi plastik itu, menunggu namaku dipanggil. Kadang terdiam, kadang pura-pura sibuk, tapi aku tahu… mereka lelah. Mereka hanya tidak ingin aku tahu.
Dan itu membuat hatiku lebih sakit dari apa pun.
“Aku cape…” gumamku suatu hari, hampir tak terdengar.
Bukan hanya cape menahan sakit, tapi cape merasa menjadi beban.
Aku ingin menolak operasi itu. Ingin berkata, cukup sampai di sini saja.
Tapi setiap kali aku melihat mata mereka mata yang penuh harap, penuh doa aku tak sanggup. Harapan mereka menjadi alasan aku tetap berjalan, meski langkahku terasa semakin berat.
Malam itu, aku duduk sendiri.
Kugenggam dada ini pelan, merasakan detaknya yang rapuh. Aku berbicara pada Tuhan, dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Kalau ini jalan terakhirku… aku ikhlas. Tapi kalau masih ada waktu… aku ingin bertahan. Bukan untukku… tapi untuk mereka.”
Air mataku jatuh tanpa suara.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Aku tidak tahu apakah aku akan bangun setelah operasi itu, atau justru tertidur untuk selamanya.
Tapi satu hal yang pasti…
Di balik rasa takut ini, ada cinta yang begitu besar. Cinta yang membuatku tetap bertahan, meski tubuhku ingin menyerah.
Dan mungkin… itulah yang sebenarnya menjaga detak jantungku tetap hidup sampai hari ini.***
