Surat yang Tak Pernah Sampai
***Hujan turun tanpa suara sore itu, seolah tahu ia tak boleh mengganggu kesedihan yang sedang duduk di sudut halte. Raka menatap jalan basah dengan mata kosong. Di tangannya, ada selembar surat yang sudah kusut surat yang tak pernah ia kirim, dan kini tak akan pernah sampai.
Namanya tertulis rapi di amplop Alya.
Dulu, nama itu adalah rumah. Kini, hanya kenangan yang menolak pergi.
Mereka pernah berjanji pada senja yang sama, di bangku taman yang sama, bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan tetap pulang satu sama lain.
Raka masih ingat tawa Alya yang ringan, caranya mengeluh saat hujan turun terlalu deras, dan kebiasaannya menyimpan luka sendiri demi dirinya di rumah. Cinta itu tumbuh bukan dari kemewahan, tapi dari saling menguatkan ketika dunia terasa berat.
Namun dunia memang tidak selalu adil pada mereka yang saling mencintai.
Ketika Alya pergi, bukan karena tak cinta. Ia pergi karena harus. Ayahnya sakit keras, dan hidup menuntutnya menikah dengan seseorang yang mampu menanggung biaya rumah sakit dan masa depan keluarganya.
Alya tak menangis saat pamit. Ia hanya tersenyum, senyum yang terlalu dipaksakan untuk disebut bahagia.
“Aku minta maaf,” katanya waktu itu.
Dan Raka tak pernah tahu, kata maaf bisa sepedih itu.
Bertahun-tahun berlalu. Raka tetap hidup, bekerja, tertawa sesekali. Tapi ada ruang di dadanya yang tak pernah terisi. Ia tak pernah benar-benar membuka pintu untuk siapa pun. Bukan karena setia, tapi karena lelah mencoba menggantikan sesuatu yang tak tergantikan.
Hari itu, ia mendengar kabar dari seorang teman lama. Alya telah meninggal. Bukan kecelakaan. Bukan sakit. Ia pergi dengan sunyi, meninggalkan dunia yang terlalu berat ia pikul sendirian.
Raka duduk lama di halte itu, sementara hujan semakin rapat. Surat di tangannya akhirnya ia buka. Tulisan tangannya bergetar.
Alya,
Jika suatu hari kau membaca ini, mungkin aku sudah cukup kuat untuk melepaskanmu. Tapi hari ini, aku masih mencintaimu dengan cara yang paling menyakitkan diam-diam.
Aku tidak marah karena kau pergi. Aku hanya sedih karena kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih bahagia bersama.
Air mata jatuh satu per satu, bercampur dengan hujan. Tak ada yang menepuk pundaknya. Tak ada yang berkata, “Semua akan baik-baik saja.” Karena tidak semuanya memang bisa baik-baik saja.
Beberapa cinta tidak diciptakan untuk kembali bersatu. Mereka hanya ditakdirkan untuk dikenang sebagai luka yang mengajarkan betapa dalam seseorang pernah mencintai.
Raka melipat surat itu kembali, memasukkannya ke saku, dan berdiri. Hujan masih turun, tapi ia tak lagi meneduh.
Karena ada kehilangan yang memang harus ditempuh sendirian.
Dan cinta pada Alya…
akan tetap hidup,
meski mereka tak pernah lagi pulang ke tempat yang sama. ***
.jpg)