Pertemuan yang Tak Pernah Kembali
***Aku tidak pernah benar-benar belajar cara berpisah. Yang kupelajari hanyalah bagaimana seseorang bisa hadir begitu utuh, lalu perlahan menjadi asing tanpa suara.
Kita bertemu tanpa rencana, di waktu yang sama-sama tidak siap. Kamu datang membawa tawa, cerita-cerita kecil, dan harapan yang tak pernah kita ucapkan keras-keras. Aku menerimamu tanpa curiga, seolah pertemuan itu memang tak akan menuntut apa pun selain kebersamaan.
Aku salah.
Hari-hari kita berjalan sederhana. Obrolan panjang di malam hari, pesan singkat yang selalu ditunggu, dan diam yang terasa aman. Aku mulai percaya, bukan pada janji, tapi pada kehadiranmu yang konsisten. Aku pikir itu cukup. Nyatanya, tidak pernah cukup.
Perpisahan kita tidak dramatis. Tidak ada pertengkaran, tidak ada air mata di depan mata. Kamu hanya mulai jarang, lalu menghilang dengan alasan yang terdengar masuk akal. Aku mengerti, atau setidaknya pura-pura mengerti. Karena mencintai seseorang kadang berarti belajar mengalah, bahkan pada kehilangan.
Yang paling menyakitkan bukan saat kamu pergi.
Yang menyakitkan adalah saat aku sadar, pertemuan kita seharusnya tidak pernah terjadi.
Karena sejak kamu ada, aku belajar berharap.
Dan sejak kamu pergi, aku belajar kehilangan.
Kini aku tidak lagi menyebut namamu dalam doa. Bukan karena lupa, tapi karena takut ingatan itu kembali membuka luka yang belum benar-benar sembuh. Aku hanya menyimpan satu kalimat yang tak pernah sempat kusampaikan padamu.
Bukan perpisahan yang aku tangisi,
tapi pertemuanlah yang aku sesali.
Jika suatu hari kamu membaca ini, ketahuilah aku pernah tulus.
Dan meski aku tak lagi ada di hidupmu, satu hal tetap ingin kusampaikan.
Jaga diri baik-baik. ***
