Aku Belajar Kehilangan Mungkin Hari Ini Mungkin… Mulai Besok

 



***Namaku Hari. Seorang jurnalis yang menulis banyak kisah orang lain kisah haru, perjuangan, kemenangan, bahkan cinta. Tapi entah kenapa, ketika menyangkut kisahku sendiri, aku selalu gagap, selalu ragu, selalu kalah sebelum berperang.

Aku dan Eli tidak pernah punya awal yang istimewa. Kami hanya teman biasa. Sama seperti orang-orang lain yang datang dan pergi dalam hidupku. Tidak ada getaran, tidak ada tatap yang membuat dada berdesir. Sampai entah kapan tepatnya, perasaan itu muncul tanpa aku undang. Tiba-tiba saja aku merasa tenang ketika Eli ada. Tiba-tiba saja aku merasa dicari, ditunggu, dan dibutuhkan.

Yang membuatku bingung, Eli selalu muncul di saat aku terseok. Saat berita yang kutulis ditolak redaksi, saat malam terasa terlalu sunyi, saat aku bertanya-tanya apakah hidupku punya tujuan Eli datang. Membawakan kopi, menemaniku menyelesaikan tulisan, atau sekadar diam di sampingku. Hadirnya Eli membuat hidup ini lebih ringan.

Kadang kami pergi berdua. Tidak ada status, tidak ada pengakuan. Hanya dua manusia yang berjalan tanpa arah, tapi seakan saling menemukan rumah dalam diri satu sama lain. Aku sering ingin bertanya: Apakah kamu mencintaiku? Tapi pertanyaan itu selalu gugur oleh keberanianku yang tak pernah tumbuh.

Aku pikir, selama Eli masih ada di sampingku, aku tak perlu jawaban.

Sampai hari itu datang.

Sore yang tenang, suara hujan turun pelan di jendela kantor redaksi. Eli mengirim pesan:
“Hari, aku mau cerita sesuatu… tapi jangan kaget ya.”

Aku turun ke lobi, dan Eli menungguku di sana. Dengan senyum yang sama, tapi matanya tampak lebih berat dari biasanya.

“Aku akan menikah,” katanya pelan.

Aku tidak langsung mengerti. Atau mungkin otakku menolak mengerti.
“Menikah?” ulangku seperti jurnalis bodoh yang tak tahu arti kata.

Eli mengangguk. “Dia melamarku seminggu lalu. Semua sudah disiapkan. Aku mau minta tolong kamu menulis liputan kecil tentang acaranya nanti… kalau kamu mau.”

Jika saat itu hujan turun deras, mungkin tak akan ada yang melihat aku berkedip menahan air mata. Tapi tak ada hujan. Tidak di luar, tidak di mataku. Yang ada hanya rasa sesak yang tak punya suara.

Aku tersenyum. Senyum palsu yang sudah sering kupakai saat mewawancarai narasumber yang berduka.
“Tentu, Eli. Aku akan datang. Aku akan menulis. Selamat ya…”

Malamnya, aku menulis kalimat-kalimat yang tak pernah kuberani ucapkan:

“Jika suatu hari kau membaca tulisan ini, ketahuilah… aku pernah mencintaimu. Dengan cara paling diam. Dengan harapan paling sederhana kau tetap tinggal. Tapi hari ini aku sadar, diam tidak pernah cukup untuk membuatmu menetap.”


Hari pernikahan itu datang. Aku berdiri paling belakang. Tidak membawa kamera. Tidak membawa pertanyaan. Tidak membawa keberanian. Aku hanya membawa perasaan yang sudah terlambat.

Ketika Eli berjalan menuju pelaminan, matanya sempat mencari. Dan aku merasa… seperti dikenali, tapi juga dilepaskan pada saat yang bersamaan.

Usai acara, aku pulang sendirian. Langkahku pelan. Tidak ada yang menunggu di rumah selain sunyi.

Dan malam itu, aku menulis kalimat terakhir.

“Aku penulis berita. Terbiasa menulis akhir kisah orang lain. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup… aku menulis akhir kisahku sendiri.

Eli menikah hari ini.
Aku belajar kehilangan hari ini.
Dan mungkin… mulai besok, aku belajar hidup tanpa alasan untuk mencintai.”###