Kau yang Terlambat Pulang
***Hujan turun pelan sore itu, seperti sengaja memperlambat waktu. Di bangku tua dekat halte, aku duduk sendiri, menatap jalan yang pernah kita lewati bersama. Tempat ini tak berubah hanya kita yang sudah tak lagi sama.
Dulu, di sinilah kau berjanji akan kembali.
“Aku hanya pergi sebentar,” katamu waktu itu, dengan senyum yang membuatku percaya bahwa rindu ini tak akan lama. Aku mengangguk, menahan takut yang tak sempat kuucapkan. Sebab mencintaimu, bagiku, adalah percaya tanpa syarat.
Hari berubah minggu. Minggu berubah bulan. Lalu tahun diam-diam ikut berlalu.
Aku tetap di sini, dalam hidup yang terus berjalan tapi terasa berhenti. Menunggu kabar yang tak kunjung datang. Menyimpan namamu di setiap doa, berharap semesta cukup baik untuk mengembalikanmu.
Namun waktu, ternyata tak pernah benar-benar berpihak pada yang menunggu.
Suatu hari, kabar itu datang. Bukan darimu, melainkan dari orang lain. Kau telah menemukan hidupmu di tempat yang jauh, dengan seseorang yang bahkan tak pernah aku kenal. Hatiku tak hancur saat itu tidak. Ia hanya kosong, seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya tanpa pesan.
Aku tersenyum saat mendengarnya, seolah semua baik-baik saja. Tapi malamnya, aku menangis tanpa suara. Menyadari satu hal yang paling menyakitkan.
Aku menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar berniat kembali.
Kini, di tempat yang sama, aku masih duduk. Bukan lagi untuk menunggumu, tapi untuk mengucapkan selamat tinggal pada perasaan yang dulu begitu kupertahankan.
Karena aku akhirnya mengerti…
Kau bukan pulang yang tertunda.
Kau hanyalah kenangan yang datang terlalu dalam, lalu pergi terlalu lama.
Dan saat kau akhirnya kembali
aku sudah belajar hidup tanpa menoleh ke belakang. (***)
