Di Antara Detik Terakhir Tahun
**
_Pergantian tahun tinggal menghitung waktu. Kembang api sudah disiapkan, hitungan mundur sudah dilatih, dan senyum-senyum palsu mulai dipamerkan. Namun bagiku, tak pernah ada yang benar-benar berubah dari tahun ke tahun. Angka boleh berganti, kalender boleh baru, tapi luka selalu menemukan jalannya kembali.
Harapan dan impian selalu ada. Aku menyimpannya rapi, seperti doa yang tak pernah absen di setiap malam. Tapi kehidupan nyata selalu memberi bukti: tidak semua yang diperjuangkan akan bertahan, dan tidak semua yang dicintai akan tinggal.
Malam itu, kami duduk berhadapan. Dua anak manusia yang pernah saling percaya bahwa cinta cukup untuk melawan dunia. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah ikut mengingatkan bahwa waktu tak pernah berpihak pada siapa pun.
Di luar, orang-orang bersiap menyambut tahun baru dengan tawa. Di dalam ruangan kecil itu, kami bersiap kehilangan satu sama lain.
“Aku ingin bertahan,” katamu pelan, nyaris seperti bisikan.
“Tapi hidup tidak memberi kita pilihan,” jawabku, dengan suara yang bahkan tak mampu meyakinkan diriku sendiri.
Kami tahu, perpisahan ini bukan karena cinta yang habis, melainkan karena kenyataan yang terlalu kejam untuk ditawar. Tentang jarak, tentang keadaan, tentang mimpi yang harus berjalan sendiri-sendiri. Kadang, cinta kalah bukan oleh orang ketiga, melainkan oleh hidup itu sendiri.
Hitungan mundur terdengar dari kejauhan. Sepuluh. Sembilan. Delapan.
Aku menatap wajahmu, mencoba menghafalnya. Garis lelah di matamu, senyum yang dipaksakan, dan air mata yang ditahan sekuat tenaga. Aku ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tak ingin berdusta di malam yang seharusnya jujur.
Tiga. Dua. Satu.Tahun baru tiba. Sorak sorai pecah di langit. Kembang api meledak, indah dan singkat seperti kisah kita.
Di saat orang lain saling berpelukan menyambut harapan baru, kita justru melepaskan genggaman.
Tanganku dingin saat melepaskanmu, bukan karena malam, tapi karena aku tahu, setelah ini, kita hanya akan menjadi kenangan.
“Kita pernah bahagia,” katamu sambil tersenyum.
“Iya… dan itu cukup untuk membuat perpisahan ini terasa sangat menyakitkan,” jawabku.
Kau melangkah pergi, membawa separuh hidupku yang tak sempat tumbuh sempurna. Aku tetap di tempat, menatap langit yang masih riuh oleh cahaya. Tahun berganti, tapi hatiku tertinggal di tahun yang sama tahun di mana aku kehilanganmu.
Malam itu aku mengerti satu hal:
Pergantian tahun tak selalu tentang awal yang baru.
Kadang, ia hanya menandai akhir dari sesuatu yang tak pernah kita sanggup lepaskan.
Jika kamu ingin, cerita ini bisa aku pendekkan jadi cerpen media, atau aku perdalam lagi emosinya dengan sudut pandang satu tokoh saja.***
