Pelabuhan yang Ditinggalkan
***Cinta yang pertama kali memulai segalanya, dan biarlah cinta pula yang mengakhirinya.
Tak ada yang bisa dipertahankan pada akhirnya pelabuhan itu hancur, tak bersisa, bahkan namanya pun tak lagi diingat.
Dulu, Raka selalu percaya Nara akan pulang. Sejauh apa pun Nara pergi, sejauh apa pun dunia menuntutnya berubah, Raka yakin: cinta adalah alamat yang tak pernah salah. Ia menunggu seperti pelabuhan diam, setia, tak bergerak, meski tahu ombak sering kejam.
Nara pernah berjanji, “Kalau lelah, aku pulang ke kamu.”
Raka menyimpan kalimat itu seperti doa.
Tapi waktu mengajari Nara satu hal yang tak pernah Raka pelajari bahwa cinta bisa kalah oleh kenyataan yang terus mendesak. Saat Arman datang membawa masa depan yang rapi pekerjaan tetap, restu keluarga, hidup yang tak perlu ditebak Nara mulai ragu pada pelabuhan yang ia cintai.
“Aku capek kuat,” ucap Nara suatu malam.
Raka mengangguk, meski dadanya runtuh. Ia ingin berkata bahwa ia juga capek, tapi memilih diam. Karena mencintai kadang berarti menahan.
Sejak itu, Nara sering pergi tanpa alasan. Pesan dibalas singkat. Telepon tak diangkat. Raka menunggu, terus menunggu, sampai menunggu menjadi kebiasaan yang menyakitkan.
Ia tahu tentang Arman.
Semua orang tahu. Tapi tak ada yang benar-benar berani mengatakannya di depan Raka. Mereka mengira Raka tak tahu. Padahal ia tahu. Ia hanya berharap salah.
Hari ketika Nara benar-benar pergi, tak ada pertengkaran. Tak ada air mata di depan Raka. Hanya satu pesan yang datang menjelang subuh.
“Maaf. Aku tidak meninggalkanmu karena tak cinta. Aku pergi karena aku takut hidup kita akan selalu setengah.”
Raka membaca pesan itu sambil duduk di lantai kamar. Ia tak menangis. Ia hanya memegang ponsel lama sekali, seperti berharap pesan itu berubah menjadi kalimat lain jika dibaca ulang.
Ia tak membalas.
Beberapa bulan kemudian, undangan pernikahan datang lewat orang lain. Nama Nara tercetak rapi, berdampingan dengan nama yang bukan miliknya. Raka menyobek undangan itu perlahan, satu sisi demi satu sisi, lalu berhenti ketika jarinya gemetar.
Malam itu, Raka pergi ke pelabuhan tua tempat mereka sering duduk berdua. Tempat Nara pernah berkata,
“Kalau kita tua nanti, kita ke sini lagi, ya.”
Pelabuhan itu kini rusak. Tiangnya patah. Papan kayunya lapuk. Tak ada perahu yang berlabuh. Seperti sengaja dibiarkan hancur oleh waktu.
Raka duduk di sana sampai langit gelap. Untuk pertama kalinya sejak Nara pergi, ia menangis. Tangis yang sunyi. Tangis orang yang kehilangan bukan hanya kekasih, tapi juga arah pulang.
“Aku nunggu kamu,” katanya pada laut.
“Aku benar-benar nunggu.”
Tahun berganti.
Raka tak menikah. Ia mencintai beberapa orang, tapi selalu setengah. Karena sebagian hatinya tertinggal di pelabuhan yang hancur itu.
Suatu sore, ia bertemu Nara secara tak sengaja. Nara sendiri. Wajahnya lebih dewasa, matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan.
“Kamu kelihatan bahagia,” kata Raka, bohong.Nara tersenyum kecil.
“Aku kelihatan utuh, tapi ada yang hilang.”
Mereka diam.
“Aku sering mimpi kamu,” lanjut Nara.
“Di mimpi itu, aku pulang… tapi pelabuhannya sudah nggak ada.”
Raka menunduk. Dadanya sesak.
“Aku masih di sana,” jawabnya pelan.
“Cuma kamu yang nggak pernah balik.”
Mereka berpisah tanpa pelukan. Tanpa janji. Tanpa kata maaf yang baru. Karena beberapa cinta tak perlu diselamatkan cukup dikenang agar tak menyakiti lagi.
Cinta memang yang memulai segalanya.
Dan cinta pula yang mengakhirinya.
Bukan dengan kebencian,
tapi dengan kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh.***
